Shadaqah

Berikan donasi anda melalui rekening di bawah ini :


BNI

No. Rekening : 0204703693

Atas Nama : Yusep Ridwan


Sekecil apapun harta yang anda berikan, Insya Allah akan sangat berguna bagi kami dan kemajuan blog ini.

Al-Baqarah ayat 196

“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah, jika kamu terkepung (terhalang oeh musuh atau karena sakit), maka (sembelihlah) korban yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu sebelum korban sampai di tempat penyembelihannya. Jika ada diantaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfidyah, yaitu: shaum atau bersedekah atau berkorban. Maka apabila kamu telah (merasa) aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), maka (wajiblah ia menyembelih) korban yang mudah didapat. Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu), maka wajib bershaum tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari lagi bila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidilharam (orang-orang yang bukan penduduk kota Mekah). Dan bertaqwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah berat siksaan-Nya”.
Mengenai turunnya ayat ini, terdapat beberapa peristiwa sebagai berikut:
Diriwayatkan oleh Ibnu Hatim yang bersumber dari Shafwan bin Umayyah: Bahwa seorang laki-laki berjubah yang semerbak dengan wangi-wangian za’faran menghadap kepada Nabi Saw dan berkata: “Ya Rasulullah, apa yang harus saya lakukan dalam menunaikan umrah?”. Maka turunlah “Wa atimmulhajja wal ‘umrata lillah”. Rasulullah bersabda: “Mana orang yang tadi bertanya tentang umrah itu?”. Orang itu menjawab: “Saya, ya Rasulullah”. Selanjutnya Rasulullah bersabda: “Tanggalkan bajumu, bersihkan hidung dan mandilah dengan sempurna, kemudian kerjakan apa yang biasa kau kerjakan pada waktu haji”.
Diriwayatkan oleh Al-Bukhari yang bersumber dari Ka’b bin ‘Ujrah: Bahwa Kaib bin Ujrah ditanya tentang firman Allah “Fafidyatum min shiyamin aw shadaqatin aw nusuk” (Al-Baqarah: 196). Ia bercerita sebagai berikut: “Ketika sedang melakukan umrah, saya merasa kepayahan, karena di rambut dan muka saya bertaburan kutu. Ketika itu Rasulullah Saw melihat aku kepayahan karena penyakit pada rambutku itu. Maka turunlah “Fafidyatum min shiyamin aw shadaqatin aw nusuk” khusus tentang aku dan berlaku bagi semua. Rasulullah bersabda: “Apakah kau punya biri-biri untuk fidyah?” Aku menjawab bahwa aku tidak memilikinya. Rasulullah bersabda: “Bershaumlah tiga hari, atau beri makanlah enam orang miskin, tiap orang setengah sha’ (1 1/2 liter) makanan, dan bercukurlah kamu”.
Diriwayatkan oleh Ahmad yang bersumber dari Ka’b: Bahwa ketika Rasulullah Saw beserta sahabat berada di Hudaibiyah sedang berihram, kaum musyrikin melarang mereka meneruskan umrah. Salah seorang sahabat yaitu Ka’b bin Ujrah, kepalanya penuh kutu sehingga bertebaran ke mukanya. ketika itu Rasulullah lalu didepannya, dan melihat Ka’b kepayahan. Maka turunlah: “faman kana minkum maridhan aw bihi adzan mirra’sihi fafidyatun min shiyamin aw shadaqatin aw nusuk”, lalu Rasulullah menyuruh agar ia bercukur dan membayar fidyah.
Diriwayatkan oleh Al-Wahidi dari ‘Atha yang bersumber dari Ibnu Abbas: Bahwa ketika Rasulullah dan para sahabatnya berhenti di Hudaibiah (dalam perjalanan umrah), datanglah Ka’b bin Ujrah yang di kepala dan mukanya bertebaran kutu karena banyaknya. Ia berkata: “Ya Rasulullah kutu-kutu ini sangat menyakitiku”. Maka turunlah: “faman kana minkum maridhan aw adzan mirra’sihi fafidyatun min shiyamin aw shadaqatin aw nusuk” (Al-Baqarah : 196).

0 comments:

Post a Comment