Al-Anfal ayat 30

10.19


“Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memerjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya”.
(Q.S. Al-Anfal : 30)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu Abbas: dikemukakan bahwa ketika segolongan kaum Quraisy dan pembesar dari suku-suku lainnya akan memasuki Darun-Nadwah (balai pertemuan), dihalangi oleh Iblis yang menyaru sebagai seorang yang patut dipertuakan dan dihormati. Ketika melihatnya, mereka bertanya: “Siapakah tuan?”. Dia menjawab: “Saya seorang syeikh dari Najd ingin mendengar apa yang akan dimusyawarahkan oleh kalian (tentang Muhammad) dan ingin menyaksikan permusyawaratan itu. Mudah-mudahan aku dapat menyumbangkan pikiran dan  nasehat”. Mereka pun menyetujuinya dan msuklah bersama mereka. Ia pun berkata: “Bagaimana pandangan kalian tentang Muhammad?”. Salah seorang dari mereka berkata: “Masukkan saja di penjara dan ikatlah kaki tangannya sampai mati, sebagaimana matinya seorang penyair Zuhair dan Nabighah, karena perbuatannya pun seperti salah seorang diantara mereka”. Berkata Aduwwullah Syeikh An-Najd: “Demi Allah pendapat seperti itu tidak baik, karena nanti akan ada orang yang simpati kepadanya dan menyampaikan berita tempat tahanannya kepada sahabat-sahabatnya dan segera menyerbu mengambilnya dari tangan kalian dan menjaganya, dengan demikian kalian tidak akan aman dari gangguan mereka yang akan mengusir kalian dari negeri ini. Cobalah keluarkan pendapat yang lain”. Salah seorang lainnya berkata: “Usir saja dia dari tanah kita, agar supaya kita dapat bebas dan leluasa dari gangguan dan ucapannya”. Berkatalah Syaikh An-Najd: “Demi Allah pendapat ini pun tidak baik, apakah tuan-tuan tidak mengenal omongannya yang begitu menarik dan lisannya yang begitu lincah, perkataannya manis. Demi Allah jika kalian berbuat demikian, orang Arab dari segala suku  akan mengikutinya dan menurut kepadanya, dan akhirnya mereka akan bersatu padu mengusir kalian dari tanah tumpah darah kalian dan akan membunuh kalian”. Mereka berkata: “Benar, demi Allah, cobalah kemukakan pendapat lainnya”. Abu Jahl berkata: “Demi Allah, aku akan memberikan pendapat yang tidak ada taranya”. Mereka berkata: “Bagaimanakah pendapatmu itu?”. Abu Jahl berkata: “Kamu ambil dari tiap kabilah seorang pemuda yang kuat gagah berani masing-masing dibekali pedang yang tajam dan ditugaskan mencincang Muhammad bersama-sama, sehingga pertanggungan jawabnya terbagi ke segala kabilah. Aku yakin bahwa Bani Hasyim tak akan mampu melawan suku”.

Pendapat ini diterima dan diputuskan secara aklamasi karena masuk akal mereka. Maka berkatalah Syeikh An-Najd: “Demi Allah, itu buah pikiran sangat baik. Aku tidak mendapat yang lainnya”. Mereka bubar dari pertemuan itu untuk melaksanakan keputusannya.

Maka datanglah Jibril kepada Nabi Saw memerintahkan untuk tidak tidur di tempat tidurnya yang biasa, dan menyampaikan keputusan pertemuan mereka. Maka Rasulullah pada malam itu tidak bermalam di rumahnya, dan Allah memberi izin untuk meninggalkan kota Mekah. Turunnya ayat ini (surat Al Anfal ayat 30) setelah Rasulullah sampai ke Madinah yang menerangkan nikmat yang diberikan Allah kepadanya (untuk disyukuri).

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ubaid bin Umair yang bersumber dari Muthalib bin Abi Wada’ah: bahwa Abu Thalib bertanya kepada Nabi Saw: “Tahukah kau apa yang dimusyawarahkan oleh kaummu (Quraisy)”. Jawab Nabi: “Mereka akan memenjarakanku atau membunuhku atau mengusirku”. Berkata Abu Thalib: “Siapa yang memberitahukan hal itu kepadamu?”. Nabi menjawab: “Tuhanku”. Abu Thalib berkata: “Tuhanmu adalah sebaik-baik Tuhan. Aku berwasiat agar engkau berbuat baik kepada-Nya”. Nabi bersabda: “Saya menerima perintah-Nya dengan sebaik-baiknya dan Tuhan telah berbuat baik kepadaku”. Maka turunlah ayat ini (surat Al Anfal ayat 30) berkenaan dengan peristiwa tersebut.

Keterangan:

Ibnu Katsir berkata: hadits ini gharib bahkan munkar karena menyebut Abu Thalib pada riwayat hijrah, padahal Abu Thalib sudah meninggal sebelumnya.

Share this :

Previous
Next Post »
0 Komentar

Penulisan markup di komentar
  • Silakan tinggalkan komentar sesuai topik. Komentar yang menyertakan link aktif, iklan, atau sejenisnya akan dihapus.
  • Untuk menyisipkan kode gunakan <i rel="code"> kode yang akan disisipkan </i>
  • Untuk menyisipkan kode panjang gunakan <i rel="pre"> kode yang akan disisipkan </i>
  • Untuk menyisipkan quote gunakan <i rel="quote"> catatan anda </i>
  • Untuk menyisipkan gambar gunakan <i rel="image"> URL gambar </i>
  • Untuk menyisipkan video gunakan [iframe] URL embed video [/iframe]
  • Kemudian parse kode tersebut pada kotak di bawah ini
  • © 2015 Simple SEO ✔